aewd

Latest Post

Menyoal Langkanya Bek Kiri

Written By Faesal Herlambang on Sabtu, 08 Februari 2014 | 22.34

thumbnailGetty Images/Mike Hewitt
Ada satu anekdot yang menyatakan bahwa jika Anda seorang pesepakbola yang ingin kariernya panjang, jadilah seorang bek kiri. Memang, di saat striker, gelandang, atau pemain sayap mendulang banyak pujian karena aksi individunya, seorang fullback jarang dapat sorotan.

Namun, jarangnya pemain yang mampu mengisi pos ini menjadikan fullbacklebih memberi peluang bagi para pesepakbola yang menginginkan kepastian bermain.

Meski hanya berupa anekdot, cerita tentang langkanya pemain dengan kaki kiri dominan yang mampu bertahan bukan hal baru lagi. Coba lihat saja Brendan Rodgers yang lebih memilih untuk menempatkan Glen Johnson (seorang bek kanan) atau Daniel Agger (bek tengah) saat Jose Enrique tak bisa bertanding. Atau, bagaimana Philipp Lahm yang acap digunakan sebagai bek kiri sebelum akhirnya David Alaba ditarik dari lini tengah oleh Jupp Heynckes.

Maka jika hampir 10 tahun nama Ashley Cole tetap jadi jawaban atas pertanyaan siapakah bek kiri terbaik di dunia saat ini, sesungguhnya ini bukan hal aneh lagi.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan langkanya pemain bek kiri dalam dunia sepakbola? Jawabannya sederhana. Jumlah pemain berkaki kiri dominan memang jauh lebih sedikit, sehingga yang mampu, atau memilih jadi bek kiri, akan jauh lebih minim lagi.

Tak tanggung-tanggung, perbandingan jumlah antara pemain dominan kaki kiri dengan pemain "berkaki" kanan pun bisa mencapai 1 banding 4. Ini terlihat dari satu studi terhadap 236 pemain yang berlaga di Piala Dunia 1998. Penelitian ini menyatakan bahwa 79% pesepakbola di turnamen tersebut acap menggunakan kaki kanan dalam menerima dan memberikan umpan. Sementara itu, hanya 21% yang fasih menggunakan kaki kiri.

Studi-studi serupa memberikan angka yang berbeda. Namun, rata-rata menyatakan bahwa jumlah pemain berkaki kiri kurang dari 30% dari total pesepakbola keseluruhan.

Sedikitnya jumlah pemain berkaki kiri ini, menurut Gianluca Vialli, jadi salah satu penyebab adanya paradigma bahwa bek kanan akan diisi pemain terburuk dalam tim.

Analoginya begini: jika seorang pesepakbola memiliki kemampuan bertahan yang baik dan tinggi badannya di atas rata-rata, maka ia akan diposisikan sebagai bek tengah. Sementara mereka-mereka yang memiliki teknik penguasaan bola mumpuni akan ditempatkan sebagai pemain tengah.

Maka pemain yang tersisa, pemain yang skill bertahan maupun menyerangnya biasa-biasa saja, acap dipasang sebagai bek kanan. Pemain berkaki kiri tentu beda. Ia akan diberi perlakukan istimewa karena memang jumlahnya yang sedikit.Fullback dan Sepak Bola Modern

Terlepas dari permasalahan jumlah pemain yang minim, evolusi peran bek kiri dalam sepak bola modern sendiri tak bisa dilepaskan dari hakikatnya sebagaifullback. Juga tak bisa putus dari relasinya terhadap posisi lain dalam tim, serta perkembangan taktikal dewasa ini.

Misalnya saja tentang permainan yang semakin menyempit ke tengah lapangan seiring dengan populernya penggunaan formasi 4-2-3-1. Dengan kecenderungan ini, maka fullback jadi posisi yang paling mendapatkan ruang untuk berlari, sementara pemain lainnya menumpuk di tengah lapangan. Menjadi tugas fullback untuk "turun-naik" dan jadi outlet penyerangan, serta memperlebar ruang permainan.

Ini terutama terjadi pada tim-tim yang menggunakan peran inverted-wingersebagai salah satu strategi dalam menyerang. Pemain sayap yang bergerak menusuk ke area kotak penalti akan lebih efektif saat ia berkombinasi denganfullback untuk menciptakan situasi 2 lawan 1 dengan fullback lawan.
Ilustrasi yang pas untuk menggambarkan ini adalah musim pertama Pep Guardiola di Barcelona.

Dengan mendatangkan Dani Alves dari Sevilla, Pep menjadikan kombinasi Lionel Messi-Alves sebagai tumpuan serangan utama Blaugrana. Messi yang berlari menusuk ke dalam, serta Alves yang tetap berjaga dekat garis lapangan, kerap membuat bingung fullback yang mengawal keduanya. Mengikuti Messi bergerak ke dalam berarti memberikan ruang bagi Alves untuk melancarkan umpan silang.

Sementara tetap berjaga di pinggir lapangan berarti membiarkan Messi melakukan tendangan dengan kaki terkuatnya, yaitu kaki kiri. Bek tengah terdekat pun tak leluasa untuk bergerak terlalu kedepan, karena bisa dimanfaatkan oleh ujung tombak atau playmaker merangsek naik ke dalam kotak penalti.

Dengan cara ini, Alves mencatatkan 10 kali assist (beberapa di antaranya key-assistassist pencipta gol pertama atau gol kemenangan), dan jadi salah satu pemain terbaik Barca di musim tersebut.

Cara ini juga yang kemudian digunakan oleh Del Bosque ketika Spanyol kehilangan akal untuk membobol gawang lawan. Jesus Navas sering dimasukkan ke lapangan untuk menarik fullback lawan sehingga ada celah bagi Iniesta untuk mengirimkan umpan terobosan.

Ya, berbeda dengan pemain sayap yang sering mendapatkan umpan di area pertahanan lawan, acap kali "lari" yang dilakukan oleh fullback sendiri tak berujung pada penguasaan bola bagi dirinya sendiri. Lari yang tidak egois. Namun lari ini penting dilakukan untuk dua hal: untuk menciptakan ruang bagi pemain sayap, serta untuk menjadi tujuan umpan bagi pemain tengah, pemain sayap, atau bahkan kiper sekalipun.

Menjadi Bugar dan PintarImplikasi menarik dari perkembangan peran fullback ini, selain bek kiri-kanan yang dituntut untuk memiliki kemampuan passing mumpuni, adalah pada kondisi fisik pemain.

Dengan menjadi outlet penyerangan, dan dengan memiliki ruang berlari terpanjang, otomatis fullback lah yang kini mengemban peran sebagai pemainbox-to-box. Merekalah yang kini mesti terbiasa dengan lari sprint, baik dalam jarak pendek maupun panjang.

Karena itu, fullback dituntut untuk memiliki level kebugaran lebih tinggi dari pemain lainnya. Ketahanan fisik untuk sprint mengejar musuh, sering kali dari lini pertahanan lawan ke garis gawang sendiri, di menit-menit akhir pertandingan tentu jadi faktor krusial yang mesti dimiliki seorang fullback

Jika seorang striker masih bisa bermalas-malasan saat kondisi fisiknya menurun dalam satu pertandingan, kemewahan ini tak didapatkan oleh para fullback. Terutama karena ada ruang yang ditinggalkan oleh fullback saat ia naik untuk membantu penyerangan.

Maka tak heran jika dalam sesi latihan, fullback mendapatkan porsi lari lebih banyak. Biasanya berupa sesi lari dari satu ujung bendera sudut ke sudut lainnya.

Selain kebugaran, salah satu kemampuan lainnya yang dituntut dari baik bek kanan dan kiri adalah kemampuan untuk mengenali bagaimana pemain tengah atau pemain sayap dalam tim ingin bermain. Simaklah penuturan Glen Johnson mengenai hubungannya dengan pemain lainnya di Liverpool pada musim 2008/2009:

"Jika saya bermain dengan Maxi Rodriguez atau Dirk Kuyt, saya tahu saya bisa berlari menyerang kapanpun. Ini karena mereka akan cutting inside dan memberikan saya ruang, juga memberikan bantuan saat bertahan. Tapi Ryan Babel lebih sering dribbling dan menggunakan area sayap lapangan, sehingga tugas saya lebih untuk membantunya," ujar Johnson kepada majalah Four Four Two.

Sulit Tergantikan

Terkait dengan berkembangnya peran fullback jadi lebih menyerang inilah, bek kiri lebih sulit tergantikan dibandingkan dengan rekannya di kanan.

Mensubstitusi seorang bek kiri dengan center-back tentu bisa dilakukan. Tetapi ini dengan resiko menghilangkan potensi sisi penyerangan, karena tak semua center-back memiliki insting untuk mendobrak maju.Sementara itu, menarik seorang pemain tengah menjadi bek akan lebih berbahaya. Ini disebabkan tak semua pemain tengah memiliki kemampuan bertahan untuk menghadapi pemain sayap. Apalagi menghadapi inverted-winger berkaki kanan (baca: Bagaimana Inverted Winger Bekerja).

Sebagai contoh, lihat saja bagaimana kesulitannya Javier Mascherano di Barcelona untuk menghadapi serangan balik dari kiri, saat Jordi Alba masih berada di depan. Atau, matinya serangan dari sayap kiri Liverpool saat Daniel Agger diplot untuk menggantikan Jose Enrique. Pemain asal Denmark ini lebih sering bertahan menjaga basisnya ketimbang naik untuk membantu Stewart Downing atau Raheem Sterling di kiri.

Sektor kanan pertahanan umumnya tak memiliki kesulitan dalam hal ini. Masing-masing tim relatif memiliki cadangan bek kanan yang kualitasnya tak jauh dari pemain inti.

Di Eropa sendiri mungkin hanya Real Madrid yang jadi klub dengan dua bek kiri berkualitas hampir sama dalam diri Marcelo dan Fabio Coentrao. Sementara Manchester United masih mengandalkan Patrice Evra, Man. City dengan Gael Clichy, Barcelona dengan Alba, dan Bayern Munich dengan David Alaba.

Begitu pula dengan Chelsea yang juga tetap mengandalkan Ashley Cole. Maka jika harga Gareth Bale atau Leighton Baines kemudian meroket tinggi, ini bukan hal yang aneh lagi.

Lalu bagaimana kah caranya menghentikan bek kiri yang kerap naik untuk membantu penyerangan? Cara pertama yang bisa dilakukan adalah memasang defensive winger yang langsung menghadang serangan. Satu taktik yang melahirkan generasi baru pemain sayap yang fasih bertahan seperti James Milner, Park Ji Sung, atau Dirk Kuyt. (baca: Genealogi Winger Bagian 3: Defensive Winger).

Sementara yang kedua, adalah dengan menggunakan winger yang memang fasih men-dribble, memiliki yang akselerasi baik, atau yang kerap mencetak gol. Dengan cara ini, fullback pun akan berpikir dua kali jika ingin meninggalkan posnya tak terjaga.

=====

*akun Twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball
*Foto-foto: Ashley Cole, Robert Jarni, dan Leighton Baines (Getty Images)

Sejarah Formasi W-M (Bagian 1)

thumbnail
Di masa-masa awal evolusi sepakbola, permainan menyerang adalah raja, dengan mencetak gol sebagai tujuan utama. Piramida 2-3-5 dengan keberadaan 5 orang penyerang di depan pun seakan jadi bukti. Taktik inilah yang digunakan oleh hampir semua klub di Inggris di awal abad 19.

Kala itu, masing-masing pemain melaksanakan peran tunggal. onsep penyerang yang bertahan, atau pemain bertahan yang menyerang, tidaklah dikenal Bahkan sistem bertahan juga tergolong sederhana, yaitu satu pemain menjaga seorang pemain lainnya. Cara bermain berupa pressing ketat atau bertahan zona pun sama sekali belum diketahui.

Bahwa sepakbola lalu berevolusi hingga menjadi permainan yang di kenal saat ini, dengan segala macam kerumitan taktik, formasi, peran pemain, sehingga kemudian bentuk piramidanya terbalik, tentu melalui suatu proses metamorfosis yang panjang dan berulang. Ada ide yang (selalu) ditemukan, entah melalui ketidaksengajaan, suatu kekalahan, atau lewat desain yang dirancang dengan matang.

Salah satu perubahan mendasar yang terjadi mula-mula dalam sepakbola adalah bergantinya formasi 2-3-5 jadi strategi W-M. Adanya revisi aturan offside yang terjadi pada tahun 1925 jadi faktor utama terjadinya hal ini. (lihat tulisan sebelumnya: "Chapman dan Sacchi: Offside Sebagai Kemungkinan Taktikal").


2-3-5 ke 3-2-2-3 (W-M)

Terdapat perubahan di dua ujung lapangan dalam menuju formasi W-M, yaitu di sisi penyerangan dan bertahan. Di ujung satu, dua orang inside forward, yang semula menemani center forward dan dua orang winger untuk menyerang, ditarik untuk bermain lebih dalam. Sementara pergantian di ujung satunya adalah "mundurnya" center-half dan menjadi bek ketiga (lihat grafik).



Salah satu efek dari perubahan posisi ini adalah kacaunya susunan nomor punggung di Inggris. Dalam bukunya, The Inverting Piramid, Jonathan Wilson menyatakan bahwa dulu pada 1939, FA telah menetapkan aturan baku penomoran pemain, yaitu: 1-Kiper, 2-bek kanan, 3-bek kiri, 4-right-half, 5- centre half, 6-left half, 7-right winger, 8-inside right, 9-centre forward, 10-inside left, dan 11-left-winger.

Saat formasi W-M mulai digunakan, aturan penomoran ini tidak disesuaikan lagi dan dilazimkan saja, baik oleh klub, FA, maupun media massa. Akibatnya, ada saja pelatih yang memanfaatkan hal ini untuk menimbulkan kebingungan untuk musuh-musuhnya.

Misalnya saja Pete Doherty, sang pelatih Doncaster Rovers. Terkadang ia menyuruh anak-anak asuhannya untuk saling bertukar nomor punggung untuk mengacaukan sistem pertahanan lawan. Para pemain yang kala itu lebih sering mengenali lawan dari nomor punggung, daripada posisi atau muka, pun kebingungan dalam mencari pemain mana yang akan ia jaga. Mereka juga sibuk menerka-nerka apakah tim Pete Doherty menggunakan formasi 2-3-5 atau formasi W-M.Tentang penciptaan formasi W-M sendiri tidak berlangsung dalam waktu singkat dan melalui dua tahapan. Pertama adalah saat dua inside forward bermain lebih ke dalam, sementara perubahan kedua adalah saat munculnya bek ketiga.

Formasi W: Pra Aturan Offside Baru

Banyak orang mengidentikkan penciptaan formasi W-M dengan salah satu pelatih legendaris Arsenal, Herbert Chapman. Bagaimana tidak. Dengan menggunakan taktik inilah Arsenal berhasil mendapatkan 5 gelar Divisi Utama serta dua kali merebut Piala FA.

Keberhasilan Arsenal ini kemudian membuat formasi W-M ditiru oleh banyak klub, sehingga sempat jadi platform untuk klub-klub di Inggris selama lebih dari 25 tahun. 

Namun, dalam kolom "The Question" diThe Guardian, Jonathan Wilson kembali mempertanyakan hal ini terutama karena adanya bukti-bukti baru. Melalui tulisan salah seorang jurnalis sepakbola Inggris di kala itu, Cherry Blossom, Wilson menemukan bahwa formasi W telah menyebar di Inggris sebelum era Arsenal-nya Chapman. Tapi perubahan ini hanya berada di satu ujung lapangan saja, yaitu menarik inside forward untuk bermain lebih dalam.

Salah satu bukti yang mendukung hal ini adalah sedikitnya jumlah gol yang dicetak oleh inside forward, sementara center forward dan pemain sayap sangat sering terlibat dalam proses mencetak gol. 

Menurut tulisan Cherry Blossom lagi, ada perubahan peran inside forward dalam bermain. Jika sebelumnya para pemain ini berperan seperti striker untuk mencetak gol, maka kini tugasnya bertambah jadi ikut bertahan saat timnya sedang diserang. Ini bisa jadi salah satu evolusi peran dan fungsi pemain pertama dalam sepak bola. Dengan inside forward yang bermain lebih ke dalam, center-forward serta kedua pemain sayap akan bermain sejajar di depan, dengan jarak kurang lebih 1 meter dari posisi offside.

Perubahan ini tidak terjadi hanya di Inggris. Baik negara-negara di dataran Eropa maupun Amerika Tengah juga memulai proses evolusi dari 2-3-5 jadi W-M dengan menurunkan posisi inside forward. 

Hal ini berbeda dengan klaim yang dilakukan Willy Meisl, salah seorang jurnalis olahraga terkemuka di Inggris, terhadap terbentuknya taktik W-M. Ia mengatakan bahwa inside forward yang bermain lebih dalam adalah untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan center-half karena pindah jadi bek ketiga.

Transformasi Jadi W-M: Bek KetigaJika Chapman dan Arsenal tidak menjadi pelopor bergantinya posisi inside forward, maka penyempurnaan penggunaan bek ketiga bisa ditujukan pada pelatih legendaris ini. 

Chapman sebenarnya tidak menemukan ide adanya bek ketiga ini sendirian. Saat aturan offside baru diterapkan, ia semula kesulitan dalam beradaptasi sehingga Arsenal acap kali mendapatkan hasil buruk. Saat tim-tim Eropa mulai mencari cara untuk beradaptasi dengan aturan ini, Chapman masih terjebak menggunakan 2-3-5. 

Namun, semua berubah saat Newcastle membantai mereka 7-0. 

Setelah kekalahan tersebut seorang pemain depan Arsenal, Charlie Buchan, mengancam untuk mengundurkan diri dari tim jika Chapman tidak melakukan perubahan formasi. Buchan sendiri memang semenjak awal musim telah berargumen bahwa dengan berubahnya hukum offside, maka center-half (lihat gambar) mau tidak mau akan mengambil peran yang lebih defensif. 

Buchan juga menunjukkan pada Chapman bahwa saat menaklukkan Arsenal,center-half Newcastle juga mengambil tugas seperti itu. Ia tidak membantu penyerangan, namun berkali-kali memutus serangan Arsenal. 

Chapman yang mengiyakan hal ini lalu mengubah formasi Arsenal. Ia menyuruh Jack Butler, seorang center-half, untuk meredam insting kreatifnya dan fokus dalam bertahan dan bermain lebih dalam. Dua hari setelah kekalahan 7-0 dari Newcastle, dengan menggunakan strategi baru ini Arsenal menang 4-1 dari West Ham. Tim asal kota London ini pun di akhir musim berhasil bercokor di posisi dua klasemen, di bawah Huddersfield.

Di musim selanjutnya Chapman pun mulai menyempurnakan formasi. Bagaimanapun juga perubahan fungsicenter-half berarti ada pergantian peran-peran lainnya dalam tim.

Kedua full-back yang semula bermain di poros tengah dipasang mendekati sayap lapangan untuk menjegal winger-wingerlawan. Demikian pula dengan dua oranginside forward yang masing-masing diberinya peran berbeda. Buchan yang memiliki kemampuan mumpuni untuk mencetak gol tetap ia plot untuk membantu 3 orang di depan dalam menyerang. Sementara Andy Neil lebih difungsikan untuk membantu right-half dan left-half di tengah.

Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan permainan. Dengan ditariknya center-half untuk bermain lebih dalam, maka lapangan tengah yang semula dihuni oleh 3 orang jadi hanya 2 orang. Disinilah peran Andy Neil sebagai inside forward sebagai penyeimbang, terutama dalam bertahan. 

Walau jadi orang pertama yang menyadari kebutuhan untuk mengganti taktik, uniknya puncak penampilan Arsenal dengan formasi W-M datang setelah Buchan pensiun. Kuncinya terletak pada diri dua orang, yaitu Alex James sang inside forward dan Herbie Robert, seorang center-back murni.Dalam diri Alex James, ironisnya direkrut untuk menggantikan Buchan, Chapman menemukan seorang pemain cerdas yang mampu mendistribusi bola saat menyerang. Saat melakukan serangan balik, James dengan kecepatannya mampu melihat ruang kosong lawan dan mengalirkan bola ke arah tersebut. 

Sementara dalam Herbie Robert, Chapman menemukan seorang bek tengah yang bisa tampil tanpa kompromi. Saat mempercayakan posisi ini pada Jack Butler, Arsenal sering kali dibobol melalui area yang dijaganya. Butler memang memiliki kemampuan teknik yang lebih mumpuni dibanding Roberts, terutama dalam mendistribusi bola, tapi ia lemah secara defensif.

Beda halnya dengan Robert. Dengan tekel dan kemampuan memotong bola di udaranya ia seakan jadi benteng Arsenal. Ia mampu tampil di bawah tekanan dan mengorganisir lini pertahanan Arsenal. Kelemahannya hanya satu. Ia tak bisa mengirimkan umpan-umpan panjang. Boleh dikatakan Robert inilah yang jadi prototipe center-back modern ala Inggris saat ini.

Dengan kehadiran dua orang ini Arsenal kemudian meraih sukses. Di tahun kelimanya, pada 1930, setelah menyempurnakan formasi W-M, Chapman pun mengantarkan tropi pertamanya sebagai pelatih dalam bentuk Piala FA.

Empat tahun kemudian, pada 6 Januari 1934 Chapman meninggal dunia karena pneumonia. Saat itu ia masih menjadi pelatih Arsenal dan masih berusia 56 tahun. Formasi W-M yang ia populerkan akhirnya merajai Inggris dan mengubah peta persepakbolaan negara tersebut. (Lihat tulisan Genealogi Winger (Bagian 1)).


===

* Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball

Bahaya Laten Sepakbola 'Kutak-Katik'

thumbnailOkto Maniani (AFP/Adek Berry)
Kesal rasanya menonton 10 menit terakhir pertandingan antara timnas U-23 vs Jakarta All Stars (JAS) yang diperkuat Radja Nainggolan hari Rabu (19/6) lalu. Saat pemain JAS yang kebanyakan sudah veteran terlihat telah kehabisan nafas, tim yang dipersiapkan untuk SEA Games 2013 tetap saja gagal mencetak gol.

Penonton yang tidak terlalu banyak itu pun mulai meneriaki para pemain timnas dan pelatih RD. Gemas sekali rasanya melihat bagaimana anak asuh Rahmad Darmawan itu memperlihatkan sepakbola yang sangat jauh dari efektif. Berkali-kali peluang emas terbuang sia-sia, berkali-kali pula ruang yang terbuka di jantung pertahanan JAS tidak dimanfaatkan oleh para pemain.

Andik Vermansah dan terutama Rahel Radiansyah yang masuk di babak kedua, kelewat sibuk dan kelewat lama menggiring bola di sisi lapangan. Radiansyah yang masuk menggantikan Irsyad, dan bermain di sayap, berkali-kali terlambat mengirimkan umpan silang. Jikapun akhirnya membuat umpan silang, jarang sekali umpan itu akurat.

Ini problem laten dalam cara bermain di sepakbola Indonesia. Tentu saja banyak sekali kekurangan yang dimiliki para pemain kita. Teknik mengumpan, misalnya, sudah jadi rahasia umum menjadi titik lemah sepakbola Indonesia. Belum lagi jika menyebutkan hobi "menggoreng bola" yang tidak perlu, yang malahan kerap dipertontonkan para pemain yang bahkan berlabel pemain timnas sekalipun.

Sejumlah langganan timnas seperti Andik, M. Ilham, Okto Maniani dan Radiansyah adalah beberapa nama yang sering dikritik karena hobi mereka membawa bola yang sangat jauh dari efektif dan efisien. Greg Nwokolo adalah ekspatriat yang juga sering dikritik terlalu asyik main sendirian. Dalam pikiran iseng saya, barangkali justru karena getol main sendiri itulah makanya Greg akhirnya dinaturalisasi.

Saya bahkan mendapati beberapa lelucon di media sosial tentang para "penggoreng bola" ini. Karena hobinya membawa bola tapi sangat buruk ketika memberi umpan silang atau melakukan percobaan mencetak gol, Okto [kadang juga Andik] pernah saya baca "dibecandain" sebagai "pembalap liar yang tidak pakai helm".

Ini bukan masalah baru dalam sepakbola Indonesia. Dalam buku berjudul Sepakbola Indonesia: Sistem Blok, Total Football, Mencetak Gol, Cattenacio, Kadir Jusuf sudah mengkritik hal ini.

Dalam uraiannya mengenai metode latihan sistem blok yang diperkenalkan oleh Vaclav Jecek di Cekoslowakia, Kadir Jusuf menulis: "Pemain-pemain kita, sadar atau tidak, cenderung bermain cantik tetapi tidak efisien. Mereka seakan-akan lupa bahwa tujuan utama permainan sepakbola adalah mencetak gol. … Di Cekoslovakia, penyakit permainan macam ini disebut Ulicke yang secara harfiah berarti 'sepakbola jalanan'. Tidak jelas apakah di Indonesia ada nama khusus bagi 'penyakit' sepakbola yang juga sudah lama mewabah tersebut. Kami cenderung menamakan dengan 'sepakbola kutak-kutik'."

Kadir Jusuf adalah kolomnis sepakbola yang di masanya punya reputasi bagus. Ketika Wiel Coerver menerbitkan buku legendaris yang banyak dipakai di negara-negara lain, Sepakbola: Program Pembinaan Ideal, Kadir Jusuf yang dimintai menulis kata pengantarnya. Nah, buku Sepakbola Indonesia: Sistem Blok, Total Football, Mencetak Gol, Cattenacio yang mengkritik "sepakbola kutak-katik" itu sendiri terbit pada 1982. Artinya, penyakit sepakbola Indonesia ini setidaknya sudah muncul sejak 31 tahun lalu, atau bahkan lebih lama lagi mewabahnya.

Sepakbola kutak-katik yang memperlakukan lapangan seolah-olah sebagai kuali tempat menggoreng bola itu muncul karena banyak sebab. Salah satu yang menjadi penyebab utamanya adalah jebloknya skill, teknik dan pemahaman para pemain [juga pelatih] terhadap pentingnya pergerakan tanpa bola. Sepakbola akhirnya melulu tentang siapa yang sedang membawa bola. Begitu tidak memegang bola, pekerjaan seolah-olah sudah selesai.Kurangnya teknik pergerakan tanpa bola ini membuat sepakbola jadi cenderung statis. Pemain terpaku pada posisinya masing-masing. Akibatnya adalah tidak banyak tercipta ruang kosong yang bisa dieksploitasi. Pentingnya pergerakan tanpa bola adalah untuk membuka atau menciptakan ruang. Jika tidak banyak ruang terbuka yang bisa dieksploitasi, maka pemain yang sedang memegang bola akan kebingungan ke mana bola akan dialirkan. Pilihannya jadi terbatas: [1] mengirim umpan panjang, [2] bola dibawa sendirian, [3] melakukan percobaan mencetak gol dari titik yang tidak efektif.



Penyakit "sepakbola kutak-katik" salah satunya lahir dari buruknya teknik dan pemahaman mengenai pergerakan tanpa bola. Penyakit ini sudah menjangkiti sepakbola Indonesia sejak 30 sampai 40 tahun lalu. Artinya penyakit ini sudah laten dan melintasi setidaknya 5-8 generasi sepakbola [dengan asumsi rata-rata paling lama pemain memperkuat timnas tak lebih dari 5 tahun]. Bahkan generasi termutakhir yang dipersiapkan untuk SEA Games 2013 masih terjangkiti penyakit laten ini.

Betapa ketinggalannya sepakbola Indonesia. Jika kita merujuk Inverting the Pyramid, buku Jonathan Wilson yang menguraikan evolusi taktik sepakbola, sudah lebih setengah abad lalu sepakbola mulai mengenal pergerakan tanpa bola. Wilson mencontohkan saat Hongaria mengalahkan tuan rumah Inggris dengan skor telak 3-6. Saat itu, tulis Wilson, para pemain Hongaria sudah punya kecenderungan meninggalkan posisinya untuk bertukar tempat dengan rekannya guna membingungkan lawan yang ingin melakukan penjagaan.

Sejak itu, evolusi taktik sepakbola banyak didorong oleh cara berpikir bagaimana menciptakan ruang. Total football adalah cara legendaris dalam sejarah sepakbola untuk terus menerus membuka dan menciptakan ruang. Kecenderungan memasang Satu striker murni belakangan ini juga lahir dari hasrat untuk mengeksploitasi ruang di pertahanan lawan oleh para pemain gelandang. Istilah "coming from behind" juga adalah kisah tentang terbukanya ruang yang dieksploitasi oleh pemain yang muncul dari lini kedua.

Paolo Maldini pernah mengatakan kunci kesuksesan AC "The Dream Team" Milan di era Arrigo Sacchi. Katanya, "Sebelum Sacchi datang ke Milan, pertarungan antara dua pemain selalu jadi kunci, tapi bersama Sacchi semuanya adalah tentang pergerakan tanpa bola, dan itulah kunci kami memenangi pertandingan."

Saya berulang kali datang ke stadion untuk mengamati bagaimana para pemain Indonesia ketika tidak sedang memegang bola. Mengamati pergerakan tanpa bola ini hanya bisa dilakukan jika Anda datang menonton langsung ke stadion. Cobalah sesekali datang ke stadion khusus untuk mengamati pemain yang tidak sedang memegang bola. Abaikan sejenak pemain yang sedang memegang bola. Misalnya: jika pemain sayap kanan sedang membawa bola, perhatikan apa dan bagaimana reaksi striker, sayap kiri atau gelandang serang.

Jika hanya menonton di televisi, Anda akan kesulitan memahami bobroknya kualitas pergerakan tanpa bola pemain Indonesia. Televisi cenderung hanya meng-cover pemain yang membawa bola. Hanya saat kamera menggunakan wide-angle saja penonton di rumah bisa menyaksikan apa yang dilakukan pemain sayap kiri ketika pemain sayap kanan sedang membawa bola.

Pengamatan bertahun-tahun yang saya lakukan di stadion ini membuat saya sedikit banyak tahu level pemahaman sepakbola Indonesia mengenai teknik pergerakan tanpa bola. Dalam pengamatan saya, paling banyak rata-rata hanya 3 pemain yang melakukan pergerakan tanpa bola saat ada rekan di dekatnya sedang memegang bola. Pemain lainnya? Piknik di atas rumput.

Kenapa hanya rata-rata 3 pemain yang bergerak? Ini terkait dengan masih belum baiknya pemahaman tentang fungsi pergerakan tanpa bola. Jika pun pemain melakukan pergerakan tanpa bola, seringkali itu dilakukan semata untuk menjemput atau menerima bola. Misal: ketika center-back memegang bola, besar kemungkinan yang bergerak mencari atau membuka ruang adalah para gelandang. Konteks pergerakannya itu membuka ruang untuk dirinya sendiri, belum sampai membuka ruang untuk tim.Sepakbola adalah permainan tentang dan di dalam ruang. Pergerakan tanpa bola adalah kunci pokok membuka dan menciptakan ruang. Tidak mungkin ada serangan yang efektif tanpa penciptaan atau pembukaan ruang. Alih-alih membuka ruang, "sepakbola kutak-katik" seringkali justru mempersempit ruang itu.



===

* Akun twitter penulis: @zenrs dari @panditfootball

Genealogi Winger (Bagian 3): Defensive Winger

thumbnail
Jika dibandingkan Arjen Robben atau Marc Overmars, sosok Dirk Kuyt atau Park Ji Sung terlihat lebih sederhana. Keduanya tidak mencolok, tidak "wah", tidak dilengkapi trik-trik unik yang bisa mengelabui full-back di hadapannya, dan jarang memotong ke arah kotak penalti untuk mencetak gol.

Padahal biasanya mereka-mereka yang ditempatkan di area sayap seringkali diidentikkan dengan kecepatan dalam mengeksplorasi sisi lapangan dan/atau kreativitas dalam berduel dengan para full-back. Setelah pemain depan, tipe-tipe pemain sayap biasanya kerap membuat penonton terkesima dan sering memaksa penonton tanpa sadar bergerak dari tepian kursi untuk berdiri.

Tapi ini berbeda dengan Kuyt dan Ji Sung. Saat ditempatkan di sisi lapangan, kedua pemain ini lebih sering berlari ke arah gawang timnya sendiri dibandingkan meneror kiper tim lawan. Jika Robben menyihir penonton dengan golnya dari tepian kotak penalti, Kuyt saat membela Liverpool, dan Ji Sung sewaktu berbaju Manchester United, justru lebih sering membuat penonton berteriak dengan larinya mengejar pemain depan lawan kemudian merebut bola dengan tekel.

Walau bukan seorang pemain sayap murni, baik Rafa Benitez maupun Alex Ferguson sering mempercayakan sisi sayap kiri atau kanan lapangan pada kedua pesepakbola ini. Karena daya tahannya secara aktif dalam menahan laju serangan lawan [defensive-ability], maka pemain-pemain yang mengambil peran seperti Kuyt dan Ji Sung ini sering disebut sebagai defensive winger.

Tapi keberadaan pemain sayap tipe bertahan sendiri bukan hal baru dalam dunia sepakbola. Kemunculannya pertama kali dapat ditelusuri hingga ke akhir 1950-an.

Penyeimbang Lini Bertahan dan Menyerang

Mario Zagallo, orang pertama yang pernah menjadi juara dunia dalam kapasitas sebagai pemain dan pelatih, sering dianggap sebagai prototipe pemain sayap bertahan pertama di dunia. Bersama Brasil ia dua kali menjuarai Piala Dunia dengan menjadi defensive winger yaitu pada 1958 dan 1962.

Semula Zagallo berperan sebagai inside forward kiri di dalam formasi dasar 4-2-4. Namun dengan melimpahnya pemain-pemain depan Brasil saat itu, satu-satunya cara agar Zagallo mendapatkan tempat di timnas adalah dengan menjadi pemain sayap kiri. Dengan Garrincha yang sangat hedonis dan buas dalam menyerang di sisi kanan [lihat artikel mengenai Garrincha], maka Zagallo bermain di sisi kiri untuk cenderung ikut bertahan saat timnya diserang.

Di era 1950-an, atau menjelang berakhirnya era W-M, tugas inside forward sudah berubah terlebih dahulu. Jika semula pemain di posisi ini hanya bertugas untuk menyerang dan mengalirkan bola, maka perannya bertambah dengan ikut membantu pertahanan saat timnya diserang. Karena itu, tak heran Zagallo sudah memiliki kemampuan bertahan sebelum ia mengambil peran pemain sayap.

Hal ini berbeda dengan Garrincha, sang winger kanan. Dengan kemampuan dribel dan dalam melewati bek lawan, Garrincha dapat dikategorikan sebagai pemain sayap tradisional yang tak memiliki tugas bertahan sama sekali [lihat chalkboard di bawah ini untuk formasi Brasil di Piala Dunia 1958].


Dengan kedua pemain ituah Vicente Feola, pelatih Brasil kala itu, membawa negara Amerika latin ini menjuarai Piala Dunia 1958. Garrincha akan menyuplai Pele dan Vava untuk mencetak gol, sementara Zagallo dengan kerja kerasnya (tak heran ia dijuluki "Si Semut") dalam bertahan akan membantu Didi dan Zito di lini tengah.

Kemunculan Zagallo ini pun sesungguhnya suatu reaksi dari perubahan besar di dunia sepakbola, yaitu awal mula munculnya empat bek sejajar dan awal mula 4-3-3. 



Empat bek sejajar muncul karena salah satu center-half (di formasi W-M) secara alamiah akan berposisi lebih dalam dan bertahan dari satunya, sehingga terdapat empat orang di lini pertahanan [lihat chalkboard di atas]. Sementara itu, tiga pemain di tengah (didapatkan dengan Zagallo yang bermain lebih dalam) muncul karena adanya kebutuhan untuk mengisi kekosongan lini tengah yang ditinggalkan center-half yang berperan sebagai bek.

Karena itu, tak heran jika tim Brasil di Piala Dunia 1958 terlihat tidak seimbang atau tidak simetris. Penyerangan akan lebih berpusat di sisi kanan lapangan (lewat Garrincha-Pele-Vava), sementara pemain sisi kiri akan lebih meredam gairah untuk menyerang demi kepentingan pertahanan. 4-3-3 yang tidak simetris.

Bagi Brasil sendiri, walau Zagallo bukan pemain paling terkenal yang pernah dihasilkan negara ini, ia merepresentasikan satu bagian penting dalam lini masa sejarah sepak bolanya: Brasil yang mencari keseimbangan antara menyerang dan bertahan.

Sementara bagi dunia sepakbola, kemunculan Zagallo memicu pemain sayap untuk belajar seni bertahan dalam sepakbola. Selain itu juga memicu kehadiran pemain sayap yang lebih komplit, yang kemampuan bertahan dan menyerangnya sama bagusnya. Kehadiran Zagallo bahkan menginspirasi Alf Ramsey untuk menciptakan sistem "wingless wonder" saat Inggris menjuarai Piala Dunia 1966 (lihat tulisan "Genealogi Winger Bagian 2").

Tak heran seorang mantan pelatih timnas Perancis, Aime Jacquet, pernah berkata bahwa Mario Zagallo adalah orang yang mengajarkan dunia untuk mengenakan dua kaus: menyerang dan bertahan. Makanya, tak perlu diherankan jika saat Zagallo menjadi manajer pun dia tetap memasang seorang pemain sayap yang punya kemampuan bertahan bagus dalam formasi utamanya.

Saat menjuarai Piala Dunia 1970 dalam posisi sebagai manajer, sekaligus melengkapi portofolio-nya sebagai orang pertama yang menjadi juara dunia dalam status sebagai pemain dan manajer, Zagallo tak lupa menempatkan seorang defensive-winger dalam susunan utama timnya.

Brasil 1970 sering disebut sebagai salah satu tim terhebat dalam sejarah sepakbola karena keseimbangannya dalam bertahan dan menyerang. Zagallo menempatkan Rivellino di sisi kiri penyerangan. Dengan Jairzinho di kanan yang peran dan gaya mainnya seperti Garrincha di Piala Dunia 1958 dan 1962, maka Rivellino di kiri memanggul tugas sebagaimana Zagallo dulu: menjadi false-winger, defensive-winger.

Ketika Zagallo menjadi asisten Carlos Alberto Perreira di Piala Dunia 1994, Brasil pun punya pemain sayap dengan tendensi bertahan yang kuat. Brasil 1994 kerap dianggap sebagai tim yang un-aesthetic, Brasil yang tidak enak ditonton. Toh hasilnya maksimal: menjadikan Brasil sebagai tim pertama di dunia yang empat kali jadi juara dunia.

Saat itu, guna melapisi agresifitas dua full-back, Jorginho di kanan dan Branco/Leonardo di kiri, Brasil memasang Mazinho dan Zinho di kedua sayap [lihat chalkboard paling atas]. Kedua pemain ini, terutama Mazinho, ayah pemain Barcelona saat ini -- Thiago Alcantara, juga punya defensive-ability yang baik. Dengan Dunga dan Mauro Silva di jantung lini tengah, saat itu Brasil punya empat pemain tengah yang memiki kemampuan bertahan yang baik. Dan itulah sebabnya kenapa Brasil di Piala Dunia 1994 sering dianggap Brasil pertama yang kelewat doyan bertahan ketimbang menari-nari di daerah lawan.

Jawaban Atas Serangan Full-Back

Jika kemunculan Zagallo adalah jawaban Brasil untuk mengatasi persoalan keseimbangan antara menyerang dan bertahan, maka pemain yang ditempatkan tinggi di sayap untuk bertahan di era sekarang adalah jawaban atas semakin menyerangnya full-back.

Contoh Dani Alves, Roberto Carlos, Cafu, Ashley Cole, Gianluca Zambrotta, atau Fabio Grosso. Dengan kemampuan dribelnya pemain-pemain ini memiliki peran sentral dalam menyerang dan stretching area permainan agar tetap lebar dan tidak menumpuk di tengah. Hal ini dikarenakan full-back-lah yang kini jadi pemain dengan area cukup luas untuk dieksploitasi dengan kecepatannya.

Dulunya, peran ini diemban oleh winger. Namun, dengan penggunaan 4 bek sejajar, para pemain sayap kehilangan ruang untuk beroperasi sehingga tugas ini dialihkan pada pemain di belakangnya.

Karena itu, seorang winger, atau pemain depan yang bermain di sayap lapangan, sebagai orang yang pertama kali berhadapan dengan full-back, memiliki tugas untuk meredam serangan dari belakang ini.

Sebagai contoh, lihatlah Stephan El-Shaarawy saat AC Milan berhadapan dengan Barcelona di laga 16 besar Liga Champions 2012/2013. Pemain muda Italia ini oleh Max Allegri ditempatkan di sayap kiri untuk meminimalisir peran Alves dan menahannya agar tidak naik. Demikian pula dengan Park Ji Sung, atau Wayne Rooney, yang pernah ditempatkan untuk menetralisir Maicon saat Manchester United bertemu dengan Inter Milan di Liga Champions 2008/2009.Fergie salah satu manajer di era kontemporer yang sangat doyan memainkan seorang defensive-winger. Seperti yang sudah disebutkan di atas, JiSung dan Rooney cukup sering dan fasih memanggul peran ini. Terakhir bisa juga dilihat bagaimana Ryan Giggs dimainkan Fergie di leg kedua Liga Champions musim ini melawan Real Madrid. Fergie menempat Giggs di depan Rafael da Silva guna menetralisir agresifitas full-back kiri Madrid, Fabio Coentrao.

Selain untuk menahan serangan full-back lawan, kehadiran seorang defensive winger sesungguhnya membantu permainan full-back tim sendiri. Dengan full-back lawan yang tertahan di areanya sendiri, maka bek kiri-kanan tim pun akan memiliki ruang luas yang dapat digunakan untun menyerang. 

Dalam skema besar sepakbola, duel ini jadi hal yang unik dan seakan berkebalikan dengan apa yang terjadi hampir 60 tahun lalu. Dulu, duel-duel antara full-back dan pemain sayap memang jadi atraksi yang menarik penonton, dengan bek terluar yang harus siap menerima gempuran sang pemain sayap.

Kini, bak piramida sepak bola yang terbalik, posisi keduanya pun tertukar. Sang pemain sayap yang kini harus bersiaga menahan serangan full-back. 


==

* Akun twitter penulis: @vetriciawizach dari @panditfootball
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog Mbah Gendeng - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger